Rabu, 27 Februari 2013

Mahasiswa, bagaimana kabarmu kini?


Mahasiswa, bagaimana kabarmu kini?

Wahai kalian yang rindu kemenangan,
Wahai kalian yang turun kejalan,
Demi mempersembahkan jiwa dan raga,Bismillahirahmanirahim
Untuk negeri tercinta,..

Tulisan ini saya awali dengan mengutip sepenggal syair dari sebuah lagu perjuangan “Totalitas Perjuangan” yang biasa dikumandangkan oleh mahasiswa. Lagu yang begitu menggetarkan pelantunnya manakala ia benar-benar mampu meresapi esensi dari tiap-tiap syair yang ada didalamnya. Lagu yang setia menemani mahasiwa dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pemimpin muda, melaksanakan fungsinya sebagai penyalur suara kaum-kaum tertindas, lagu yang mampu membangkitkan ghirah perjuangan para mahasiswa.
Namun, masihkan syair-syair yang tersurat didalam lagu ini mampu menggambarkan kondisi realitas sosial kemahasiswaan kita saat ini? Nampaknya situasi sosial politik gerakan kemahasiswaan telah megalami perubahan yang begitu signifikan. Tahun 1998 kita ketahui bersama, mahasiwa telah menggoreskan tinta emas dalam sejarah gerakan mahasiswa, yaitu meruntuhkan rezim orde baru yang pada saat itu Indonesia dipimpin oleh Ir.Soeharto. Krisis moneter yang mencekik Indonesia, korupsi kolusi nepotisme dikalangan pejabat yang merajalela menjadikan mahasiwa geram. Demonstrasi besar-besaran dilakukan oleh mahasiwa kala itu, elemen mahasiwa dari seluruh Indonesia bersatu dan mengepung gedung DPR/MPR RI. Bentrok fisik dengan petugas keamanan tak bisa dihindarkan, bahkan tidak sedikit kawan mahasiwa yang cedera atau bahkan meninggal saat itu. Dan puncaknya adalah dengan mundurnya presiden Soeharto dari posisi presiden RI tahun 1998. Dan kini 14 tahun sudah paska moementum reformasi, ternyata ada sebuah perbedaan yang begitu kontras antara gerakan kemahasiswaan dahulu dan sekarang. Saat ini gerakan kemahasiswaan di Indonesia sedang mengalami kelesuan atau bahkan mati suri. Pergerakan-pergerakan mahasiswa yang dahulu begitu dinamis, saat ini sudah jarang didengar. Jangankan bergerak untuk mau menyuarakan aspirasi rakyat, untuk mau bergabung dengan lembaga kemahasiswaaan saja saat ini sudah sedikit jumlahnya. Mahasiwa lebih nyaman dengan kuliahnya, belajar, lulus tepat waktu, IP cumlaude, dapat beasiswa, membuat karya ilmiah dll. Ya hal-hal yang berbau akademik, saya tidak menyalahkan hal-hal tersebut, itu semua adalah hal yang positif dan baik, namun yang menjadikan saya kurang sepakat adalah hal-hal tersebut menjadikan mahasiwa saat ini hanya fokus kuliah untuk mendapatkan IP yang bagus, tanpa mau peduli dan belajar untuk peka terhadap kondisi lingkungannya, kondisi masyarakatnya dan cenderung individualis dan egois. Tidak hanya itu, lebih parah lagi mahasiwa saat ini cenderung hedonis, suka berfoya-foya, bersenang-senang, bergaya hidup mewah-mewahan. Beberapa permasalahan yang terjadi pada mahasiwa kita saat ini antara lain :
-           Krisis moral, begitu banyak pemuda kita yang melakukan hal-hal yang tidak bermoral, seks bebas, narkoba, tawuran dll
-           Apatisme mahasiswa terhadap aktivitas dan permasalahan-permasalahan sosial dan politik yanga ada disekitarnya, dan cenderung akademis.
-           Terdegradasinya rasa kepedulian sosial dari dalam diri mahasiwa, sehingga cenderung acuh ta k acuh terhadap permasalahan yang ada disekitarnya.
-           Krisis intelektual, split personaliti, keterpisahan sosil, bervisi pendek dan lain sebagainya
Dari permasalahan tersebut, juga berdampak pada kondisi gerakan kemahasiwaan dimasa sekarang. Gerakan mahasiswa 14 tahun pasca reformasi  juga mengalami disorientasi gerakan dan cenderung mati suri dan diperparah dengan problematika-problematika diantarnya :
-           Konflik ideologis dan kepentingan yang menghalangi aliansi gerakan moral bersama,
-           Visi dan peran yang tidak jelas dalam menghadapi realitas kebangsaan dan keumatan,
-           Terjebak pada rutinitas even organizer, kehilangan kewibawaan di mata birokrasi (nir bargaining position) dll.

Itulah beberapa gambaran kondisi sosial politik kemahasiswaan kita saat ini, begitu kompleks. Namun mungkin memang seperti itulah trend gerakan kemahasiswaan kita saat ini. Setiap masa memiliki karakter dan momentumnya masing-masing. Lantas apa yang harus kita lakukan saat ini? Sebagai mahasiwa-mahasiwa yang masih diberikan kesadaran untuk mau peduli akan kondisi sosial politik bangsa ini?
Bukan mahasiswa nampaknya kalau mudah putus asa,..
Bukan pemuda ketika menghadapi masalah justru mengalah,..
Bukan aku, kamu dan kita kalau yang ada hanya pesimisme,..

Soekarno saja begitu optimis dengan pemuda,.
“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)

Begitu juga optimisme seorang Hasan Al Banna dalam melihat pemuda,.
Pemuda kata Hasan al-Banna ‘‘di setiap umat mereka adalah rahasia kebangkitannya; di setiap kebangkitan mereka adalah rahasia kekuatannya; dan di setiap ideologi mereka adalah para pengusung panjinya”.
Subhanallah, senantiasa ada optimisme untuk terus maju bagi para generasi  muda, terutama bagi kita sebagai aktivis dakwah dan aktivis gerakan mahasiwa. InsyaAllah “harapan itu masih ada, dan selalu ada”.
Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menyikapi kondisi tersebut, dan mencoba sedikit demi sedikit mengikisnya antara lain :
-          Membangkitkan kembali budaya kritis dan idealis dikalangan mahasiwa. (budaya baca buku-buku pergerakan mahasiswa terdahulu).
-          Mengadakan agenda-agenda peningkatan kapasitas leadership dan character building, membangun kesadaran akan peran dan fungsi mahasiswa, sehingga diharapkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin muda Indoenesia yang memiliki kapasitas leadership yang berkualitas dan juga memiliki karakter yang berkualitas pula serta sadar akan peran dan fungsinya sebagai mahasiswa.
-          Membangun sense of political interest dikalangan mahasiwa, dengan mengadakan agenda-agenda pencerdasan politik baik melalui optimalisasi media maupun dengan mengadakan agenda-agenda diskusi, training, seminar, workshop dll.
-          Membangun jaringan dan komunikasi yang efektif dengan gerakan-gerakan mahasiwa tidak hanya pada tataran internal kampus, tetapi juga tataran regional dan nasional. Sehingga diharapkan akan terbangun sebuah konstruksi global gerakan mahasiswa, dan adanya kesamaan berpikir terkait arah gerakan mahasiwa di masa yang akan datang. (Optimalisasi fungsi BEM-SI dll)
-          Bersama perwakilan elemen mahasiswa melakukan silaturahim kepada tokoh-tokoh nasional untuk membuka kran informasi sekaligus membangun jaringan pada birokrasi. (Silaturahim anggota Dewan, Menteri, Presiden dll)
-          Melakukan kajian-kajian terhadap isu-isu yang ada baik pada tataran regional maupun nasional dan menentukan sikap tegas dari mahasiswa terhadap isu tersebut.
-          Untuk Jawa Tengah : Ikut melaksanakan sosialisasi dan pembelajaran politik kepada mahasiwa melalui partisipasi dalam pemilu Gubernur Jawa Tengah 2013 secara langsung.
-          Bekerjasama dengan KPUD Jawa Tengah dalam mengawal pemilihan Gubernur Jawa Tengah tahun 2013.

Itulah sedikit hal yang mungkin bisa kita lakukan untuk mencoba meminimalisir problematika yang tengah menghingapi gerakan mahasiswa kita saat ini. Selain itu, ini juga menjadi ikhtiar kita untuk kembali membangkitkan ruh gerakan mahasiswa yang tengah tertidur , sehingga kedepan gerakan mahasiswa akan kembali mampu menunjukkan eksistensinya dan mampu melaksanakan fungsi dan perannya secara optimal. Wallahu ‘alam bi shawab


Makhmud Kuncahyo
BEM KM Universitas Negeri Semarang